3 Juni 2012 - 02:59

"Dunia tidak bisa menutup mata atas tragedi yang terjadi di pemukiman Syiah 'Al Fau'ah' yang dalam semalam kelompok teroris memenggal 50 kepala warga sipil Syiah. Di Suriah bukan hanya warga Sunni yang mereka jadikan target pembunuhan untuk menimbulkan fitnah sektarian, juga warga Syiah. Ini menunjukkan tujuan mereka murni buat menimbulkan makar."

Menurut Kantor Berita ABNA, Muhammad Sadiq al Husain, seorang pengamat politik Timur Tengah menilai kedatangan Kofi Anan sebagai perwakilan PBB untuk meninjau langsung keadaan Suriah pasca terjadinya pembantaian massal penduduk sipil di Haulah sebagai sebuah bentuk lain untuk menekan pemerintahan Basar Ashad. Ia menyatakan adanya peran negara-negara Arab untuk mengajak dunia internasional terlibat dalam urusan dalam negeri Suriah, "Perang sesungguhnya yang terjadi di Damsyik adalah perang Suriah melawan dunia, yang dengan pertolongan Allah SWT kebenaranlah yang akan menang. Semoga rakyat Suriah bisa bersabar dan tegar menghadapi permainan politik tingkat tinggi ini." Al Husaini menyebutkan tujuan asli dari turut campurnya negara-negara Arab dan Barat dalam masalah Suriah adalah menggulingkan pemerintahan Bashar Asad sekaligus memutus hubungan Suriah dengan Iran dan Lebanon yang selama ini dikenal ketiga negara tersebut sebagai negara anti Israel dan menjadi batu sandungan bagi Israel dan Barat untuk menguasai sepenuhnya Palestina. "Kalau memang benar bahwa rezim Bashar Asad yang melakukan pembantaian atas rakyatnya sendiri, tentu sudah lama rakyat Suriah akan bangkit melawan melalui aksi-aksi demonstarsi dan unjuk rasa menuntut Asad turun. Namun fakta yang terlihat adalah aksi dukungan rakyat Suriah atas kepemimpinan Bashar Asad bahkan dalam referendum Bashar Asad tetap mendapat dukungan rakyatnya. Karenanya hanya satu kemungkinan, pelaku pembantaian adalah pihak oposisi yang mendapat sokongan dari Barat dan Arab yang menginginkan dunia menuntut Asad untuk turun dari jabatannya." Tegasnya. Dia pun menyebutkan bahwa perjalanan Kofi Anan ke Suriah dan melakukan pertemuan dengan Presiden Suria Bashar Asad akan membuat pihak musuh semakin pesimis sebab delegasi PBB tersebut tidak menemukan bukti rezim Bashar Asad bersalah dalam hal tersebut. Dia menyebutkan ketidakamanan dan konflik di Suriah merupakan hasil dari konspirasi sebagian negara-negara Arab dan Barat. "Dengan adanya dukungan rakyat Suriah atas Bashar Asad menunjukkan usaha negara-negara Arab, Emirat, Qatar, Saudi dan negara-negara Barat tidak akan menemukan hasilnya." "Dunia tidak bisa menutup mata atas tragedi yang terjadi di pemukiman Syiah 'Al Fau'ah' yang dalam semalam kelompok teroris memenggal 50 kepala warga sipil Syiah. Di Suriah bukan hanya warga Sunni yang mereka jadikan target pembunuhan untuk menimbulkan fitnah sektarian, juga warga Syiah. Ini menunjukkan tujuan mereka murni buat menimbulkan makar." Tutupnya.